Minggu, 24 Oktober 2010

PEMERINTAHAN SBY & KEPEMIMPINAN SEPEDA ONTEL

Pemerintahan SBY & Kepemimpinan “Sepeda Ontel”
Tulisan ini sabagian saya kutip dari kolom BULETIN JENDELA (penulisnya SUTORO EKO YUNANTO)yang diterbitkan oleh Kampusku tercinta STPMD "APMD" Yogyakarta, dan saya mengkontekskan artikel ini situasi dan kondisi pemerintahan SBY saat ini.

Mari kita menganalisa bersama secara kontekstual pemerintahan saat ini (SBY-Budiono;
Para pemimpin mungkin bakal berang bila citra “sepeda ontel” ditempelkan dalam kepemimpinan, demikian halnya pemimpin besar bangsa ini SBY-Budiono. Apalagi para pemimpin yang kolot dan feodal. Betapa tidak, sepeda ontel hanyalah sebuah sarana transportasi rakyat biasa yang bukan pemimpin. Ia identik dengan citra kelas kere. Dalam masyarakat modern kepemimpinan identik dengan kekuasaan, jabatan formal dan kekayaan, sehingga seorang pemimpin tidak pantas menggunakan sepeda ontel sebagai sarana transportasi. Citra pemimpin kita saat ini, identik dengan citra sebuah mobil sedan mewah, jas (baju) yang mahal dan mewah, potongan rambut yang selalu rapi dan necis (stylis) sampai koleksi-koleksi perabot rumah tangga-pun yang mewah dan berkelas (elite: (liat kondisi rill, dari kepala desa sampai presiden). Hal ini tentu sangat kontras dengan nasib dan kondisi rakyat yang serba kekurangan dalam berbagai aspek kehidupan, yang harus berebut mendapatkan jatah beras raskin, pembagian sembako murah, meninggal karena berebut zakat, busung lapar karena kekurangan pangan, mengemis dan dan meminta-minta dijalanan dan jutaan profesi yang dianggap kurang terhormat" bagi sebagian kalangan (mapan), semua menjadi label yang tepat untuk rakyat kita saat ini. Penulis melakukan analisa dengan filosofis sepeda ONTEL, dimana “sepeda ontel” punya nilai dan semangat kebajikan yang mulia, tidak saja karena sejarah dan kesederhanannya model dan bentuknya, akan tetapi merujuk pada nilai-nilai spirit dan spiritualitas yang terkandung didalamnya.Seperti yang diuraikan oleh Sutoro Eko,bahwa dalam kontek kepemimpinan yang canggih dan progresif adalah sebuah kolektivitas yang bisa dianalogikan sebagai sepeda ontel. Sekarang Anda bayangkan sebuah sepeda ontel. Paling tidak ada perangkat penting pada sepeda ontel.
Pertama, roda depan yang berarti tindakan untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Pemimpin dan anggotanya harus bertindak sukses menggapi cita-cita yang diharapkan kelompok atau lembaga.Artinya bahwa pemimpin harus mampu menciptakan sistem dan strategi yang jitu dalam mengendarai negara menuju tujuan yang jelas, yaitu masyarakat bangsa yang sejahtera. Kedua, roda belakang adalah solidaritas, yang mendorong laju roda depan. Solidaritas berarti pemimpin dan anggotanya harus punya hubungan baik satu sama lain dan punya kebersamaan untuk melaju ke depan. Baik roda depan dan belakang tidak bisa dipisahkan. Hal ini merujuk pada kemampuan masyarakat untuk mengajak dan bekerjasama dengan rakyat dalam mencapai tujuan, pemimpin harus merakyat (lebih baik lagi kalo ia sangat dekat dengan rakyat dan sering bertemu dengan rakyat untuk mengetahui berbagai aspirasi dan kebutuhan riil rakyatanya) Kedua prinsip tersebut saling melengkapi. Kuksesan meraih cita-cita akan memperkuat solidaritas, dan solidaritas akan memperkuat upaya meraih cita-cita. Ketiga, pedal yang menjadi penghubung serta penggerak roda depan dan belakang. Pedal juga merepresentasikan kapasitas dan pertumbuhan personal baik pemimpin maupun anggotanya, untuk mengambil inisiatif melaju terus menggerakkan dua roda sepeda.Para menteri dan seluruh pembantu presiden, termasuk juga anggota DPR tidak hanya menjadi katalisator,dalam merumuskan berbagai kebijakan yang pro rakyat,akan tetapi harus mampu menjadi inspirator yang bijak dalam mendorong kreatifitas dan kemandirian rakyat. Keempat, kemudi (stang), sebagai kendali atas arah laju sepeda. Dalam kelompok atau lembaga, pemimpin adalah pemegang kendali atas stang. Stang adalah rangkaian visi, misi, kebijakan dan program, sebagai kendali terhadap arah dan tindakan lembaga. Jika lembaga tidak mempunyai semua itu sama saja sepeda yang tidak punya stang.
Filsafat sepeda ontel merupakan pelajaran berharga bagi para pemimpin untuk membangun kepemimpinan yang kuat. Pemimpin yang baik bukanlah seorang nahkoda kapal yang mengendalikan kapal dengan mudah dalam ruang tertutup, yang tidak mengenal dan punya solidaritas dengan penumpangnya. Pemimpin yang baik bukanlah seorang pejabat yang duduk manis di dalam mobil. pemimpin yang bijak dan khasrismatik bukan pemimpin yang sering memberikan pidato dan mengeluh didepan kameri dan media. Pemimpin yang merakyat, bukanlah pemimpin yang suka mencari simpatik rakyat dengan pencitraan diri, Pemimpin yang baik juga bukan identik dengan sopir yang dengan mudah dan cepat mengendalikan mobil tanpa kena panas, angin dan hujan. Bagi saya, pemimpin yang baik adalah pengemudi sepeda ontel yang dengan susah payah memegang kendali dan mengayuh sepeda itu, lalu mengarahkan sepeda ontel itu menuju tujuan yang pasti (welfare state). Baik pengemudi (pemimpin) maupun pembonceng (anggota) tentu saling kenal dan punya solidaritas yang kuat. Pembonceng (anggota) akan merasakan betul betapa susahnya menjadi pengemudi (pemimpin) sepeda. Sepeda ontel yang dikendalikan sang pemimpin itu akan berjalan mulus dan lancar bila jalan yang dilewati datar dan mulus. Tetapi bila sepeda melewati jalan yang naik dan rusak, sang pemimpin itu harus bekerja mengayuh ekstra keras dan susah. Dan hal inilah yang terjadi saat ini dimana pemerintahan SBY-Budiono lebih banyak melakukan curhat dan keluh kesa, daripada melakukan tindak-tindakan riil memperjuangkan hak dan kedaulatn rakyatnya. Artinya pemimpin memang tidak bisa hanya menikmati hak-hak istimewa dan main perintah kepada anggotanya, tetapi ia harus bertanggungjawab dan bekerja lebih keras, seraya membangun solidaritas dan legitimasi di hadapan anggotanya. Kata orang bijak, pemimpin harus bertanggungjawab paling depan bila kelompok atau lembaganya tengah mengalami penderitaan; sebaliknya pemimpin harus menikmati paling belakang bila kelompok atau lembaganya tengah memperoleh kemakmuran, dan SBY tidak melakukan hal tersebut dengan baik dan bijak. Ia selalu bersembunyi dibalik demokrasi prosedural seraya berkumandang dihadapan publik bahwa ia adalah pemimpin yan dimilih oleh 60% takyat indonesia.

Idealnya Kepemimpinan adalah elemen krusial dalam pembangunan kelembagaan. Lembaga bisa hancur karena krisis kepemimpinan. Berbagai gejolak yang tumbuh dalam masyarakat belakangan ini, misalnya, antara lain karena krisis kepemimpinan lokal yang sudah lama dirusak oleh campur tangan negara. Sebaliknya, lembaga yang kokoh dan terpercaya antara lain karena ditopang oleh kepemimpinan yang kuat.
Kepemimpinan yang kuat tidak selalu identik dengan pemimpin yang kuat atau orang yang kuat (strong leader). Seorang pemimpin yang kuat justru akan cenderung menimbulkan dehumanisasi dan kehancuran. Contohnya adalah Indonesia, yang mengalami kemunduran karena diperintah oleh para pemimpin yang kuat (atas hasil pemilu)dan bahkan demokrat mengusulkan kembali SBY untuk dilanjutkan ke periode ketiga. Artinya kita butuh pemimpin yang kuat secara legitimasi politik dan juga tegas dalam mengambil berbagai kebijakan dan keputusan politik terkait kebutuhan rakyat secara luas, bukan kepemimpinan yang kuat secara fisik.

Inilah yang membedakan Indonesia dengan Singapura atau negeri-negeri lain yang sudah advanced. Kemajuan di banyak negeri orang antara lain karena ditopang oleh kepemimpinan yang kuat, sementara kemandegan atau kemunduran Indonesia karena kerinduan maupun ketergantungan pada pemimpin yang kuat.

Kemajuan bangsa ini bukan tergantung secara mutlak pada para aktor pemimpin, tapi pada kepemimpinan yang kuat secara kolektif. Bisa jadi pemimpin adalah penentu terbangunnya kepemimpinan yang kuat. Dalam realitasnya memang seperti itu. Masyarakat kolot akan selalu menggantukan diri pada pemimpin. Pemimpin diharapkan bertindak seperti malaikat atau superman, sementara anggotanya cukup menjadi pembonceng gratis. Pengikut seperti ini berwatak agraris. Celakanya jarang sekali ada pemimpin sekuat malaikat. Kalau pemimpin cenderung kolot dan tidak membawa kemajuan, maka para pengikut berwatak agraris itu hanya bisa grundelan dan putus asa.
Membangun kepemimpinan yang kuat untuk membangun kelembagaan indonesia sebagai nation state harus dikembalikan pada empat semangat “sepeda ontel” di atas. Pertama, solidaritas dan kebersamaan antara pemimpin dan anggotanya. Dialog dan komunikasi terbuka, kerjasama kolektif, dan saling percaya mungkin merupakan cara belajar paling populer untuk membangun solidaritas. Kedua, inisiatif, komitmen dan kerja keras pemimpin dan anggotanya untuk mengayuh bergerak untuk maju. Personal growth setiap individu merupakan barang mutlak, sehingga ketergantungan pada pemimpin bisa diminimalisir. Ketiga, alat kemudi sebagai kendali arah, yang populer dalam bentuk visi, misi, kebijakan dan program yang menyeluruh. Semua ini menjadi pijakan (kendali) untuk bergerak maju. Keempat, adanya tindakan yang jelas untuk melaju terus dengan dikendalikan oleh kemudi.
Keempat aspek itu bersatu, tak dapat dipisahkan satu sama lain, bagai sebuah “sepeda ontel”. Lantas, apakah tidak butuh rem dan spion? Keduanya hanya barang sekunder, yang hanya dipakai kalau perlu. Sepeda harus digerakkan untuk melaju terus secara pasti, hati-hati, dan bertahap, meski relatif pelan. Kalau Anda butuh spion ketika naik sepeda ontel, berarti Anda adalah orang yang senang bernostalgia pada masa lampau, yang sebenarnya kurang berguna untuk menuju masa depan.

Syarief Aryfaid
Staf Pengajar Ilmu Pemerintahan pada Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat Desa
STPMD "APMD" Yogyakarta

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar