Rabu, 08 September 2010

RESOLUSI KONFIK

RESOLUSI KONFLIK
Disampaikan pada Kuliah Resolusi Konflik
Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat Desa "APMD" Yogyakarta
Hari: Selasa dan Jum’at, Waktu: 10.30-12.00 WIB Ruang A.5
Oleh: ARIE FA’ID

Mengetahui & Memahami Konflik

Konflik adlh suatu keniscayaan (Lacey, 2003); Konflik mrpkn fakta kehidupan—tdk selalu terkait dgn persoalan baik dan buruk (cth: pertentangan opini). Agar berhasil dlm mengelola konflik dgn baik, maka perlu memahami konflik dgn baik-pula. Memahami berarti mengerti atau mengetahui sesuatu secara mendalam. Memahami lebih dari sekedar mengetahui. Memahami menysayaratkan penguasaan detail suatu hal, seluk beluk, bahkan asal-usul (Mulkhan, dkk, 2001)

Perspepsi dan Konflik

Perspektif yg berbeda-beda ttg kehidupan dan berbagai masalah, yang dilatar belakangi oleh: sejarah dan karakter masing-masing orang; jenis kelamin, pandangan hidup yg khas, ( org pedalama dgn org kota)—dpt menjadi konflik

Konflik ada karena adanya perbedaan pandangan. Konflik pd fase ini akan melahirkan sebuah perspektif baru/cara pandang baru sbg solusi alternatif

Konflik dan Kekerasan

Scr konseptual konflik dibedakan dgn kekerasan. Konflik (conflict) adlh hubungan antara dua pihak atau lebih (individu atau kelompok) yang memiliki tujuan yang bertentangan. Sedangkan kekerasan (violence) meliputi tindakan, kata-kata dan sikap struktur atau sistem yg menyebabkan kerusakan fisik, psikis, dan lingkungan, dan/atau menutup kemungkinan org utk mengembangkan potensinya. Konflik merupakan suatu kenyataan hidup yg tdk dpt dielakkan, dan seringkali berisifat kreatif
Konflik terjadi ketika org mengejar sasaran yg bertentangan.
Konflik meliputi semua hubungan kemanusiaan, baik hubungan sosial, ekonomi, maupun kekuasaan. Konflik muncul akibat ketidak seimbangan pd hubungan-2 ini--; misl, status sosial, kekayaan, dan akses terhadap sumber daya, serta kekuasaan yg tidak adil mengakibatkan berbagai persoalan, seperti diskriminsasi, pengangguran, kemiskinan, tekanan, dan kejahatan.-------masing2 tingkatan saling berhubungan dgn tingkata lainya, dan membentuk rantai kekuatan yg kukuh dan potensial utk mencapai perubahan yg konstruktif atau kekerasan yg destruktif.

Tipe-tipe Konflik: dan cara menyikapinya

1. Mengidentifikasi Konflik (intesifiying conflict)
2. Menekan Konflik (Suppressing Conflict

1.Mengidentifikasi Konflik (intesifiying conflict

Konflik kadangkala perlu diintensifkan; cth; org yg memegang kekuasaan yg relatif lama.----ada orglain yg dirugikan. Kerja-2 kemanusiaan para aktifis, biasanya mengintensifkan konflik, membuat konflik tampak nyata, dari laten menjadi terbuka, dpt disaksikan dan diselesaikan.

Konflik; ada 2 macam situasi konflik,yaitu; intensifiying conflict dan escalating conflict.
intensifiying conflict ; upaya membuat konflik yg tersebunyi mnjadi tampak nyata dan terbuka, utk tujuan baik dan penyelesaian masalah, sedangkan escalating conflict; kondisi ketika level tekanan dan kekerasan meningkat

Kondisi tanpa konflik (no Conflict): mrpkn kondisi yg diinginkan semua org, namun demikian kelompok atau masyarakat yg damai, jika ingin bertahan lama, maka hrs hidup dan dinamis, menyatukan konflik tingkah laku dan tujuan, serta menyelesaikanya scr kreatif.

Konflik Laten (laten conflict):Konflik yg berada dibawah permukaan, dan sbgmn telah disarankan, konflik ini perlu dibawa kepermukaan sblm dpt diselesaiakan scr efektif

Konflik terbuka ( Open conflict): konflik ini mengakar scr dalam serta sgt tampak jelas, dn membutuhkan tindakan utk mengatasi penyebab yg mengakar serta efek yg tampak

Konflik permukaan ( Surface Conflict); konflik ini memiliki akar yg tdk dalam, atau tdk mengakar. Konflik ini muncul karena kesalahpahaman—diatasi dgn perbaikan komunikasi

2. Menekan Konflik ( Suppressing Conflict)

Suatu konflik yg tekan akan menimbulkan mslh dikemudian hari. Konflik dpt dipandang sbg masalah dn dpt juga dipandang sbg solusi.Konflik dpt menjadi masalah apabila:
Terdapt saluran yg tdk tepat utk melakukan dialog dan ketidak sepakatan Suara-2 ketdksepakatan dan keluhan yg ada tdk dpt didengar atau dibahas, Terjadi ketidakstabilan, ketidak adilan, dan ketakutan dlm komunitas dan masyarakat scr luas.


Berbagai pendekatan yg berbada dlm mengatasi Konflik

Ada beberapa model pendekatan, misalnya; Penanganan konflik ( Conflict Settlement) mencakup tindakan pencegahan konflik ( Conflict prevention), dst. Transformasi konflik ( Conflict transformation), scr umum mendeskripsikan:

Model Transformasi Konflik

1.Pencegahan konflik (conflict prevention) berupaya menecegah pecahnya konflik kekerasan (violent conflict)
2. Penanganan Konflik (Conflict Settlement) berupaya utk mengakhiri tingkah laku kekerasan dgn mencapai kesepakatan perdamaian.
3.Manajemen konflik (conflict management) bertujuan utk membatasi dan menghindari kekerasan yg mungkin terjadi diwaktu yg akan datang dgn cara mendukung perubahan tingkah laku yg positif pd pihak-2 yg terlibat
4.Resolusi konflik (Conflict Resolution) membahas berbagai penyebab konflik dan mencoba utk membangun hubungan baru dan abadi diantara kelompok-2 yg saling bermusuhan
5. Transformasi konflik ( Conflict transformation); membahasa sumber-2 politik, sosial, dan yg lebih luas dari suatu konflik dan mencoba utk mentransformasikan energi negatif peperangan menjadi perubahan sosial dan politik yg bersifat positif.


Faktor-faktor penyebab konflik

Triggers (pemicu): peristiwa yg memicu sebuah konflik, namun tdk diperlukan dan tdk cukup memadai utk menjelaskan konflik itu sendiri
Pivotal factors or root causes( faktor inti atau penyebab dasar): terletak pd akar konflik yg perlu ditangani supaya pd akhirnya dpt mengatasi konflik
Mobilizing factors (faktor yg membolisasi): masalah-2 yg memobilisasi kelompok utk melakukan tindakan kekerasan
Aggravating factors ( faktor yg memperburuk); faktor yg memberikan tambahan pd mobilizing factor dan privotal factors, namun tdk cukup utk dpt menimbulkan konflik itu sendiri ( Klem: 2007)


Pertemuan Ketiga Teori-Teori Penyebab Konflik

Teori Hubungan Komunitas (Community Relation Theory)
Teori Negosiasi Utama (Principled Negosiation Theory)
Teori Kebutuhan Manusia ( Human Need Theory)
Teori Identitas (Indentity Theory)
Teori Miskomunikasi Antar Budaya (Intercultural Miscommunication Theory)
Teori Transformasi Konflik ( Conflict Tranformation Theory)

1.Teori Hubungan Komunitas (Community Relation Theory

Asumsi dasar:
Konflik disebabkan oleh polarisasi, ketidak percayaan, dan permusuhan antar kelompok-2 dlm suatu komunitas.
Sasaran kerja teori ini:
1. Utk memperbaiki komunikasi dan pemahaman diantara kelompok yg bertentangan
2. Untuk mendukung toleransi yg lebih besar dan penerimaan keragaman dlm masyarakat


2.Teori Negosiasi Utama (Principled Negosiation Theory)

Asumsi:
Bahwa konflik disebabkan oleh posisi yg tdk tepat serta pandangan ttg “ zero-sum” mengenai konflik yg diadopsi oleh kelompok yg bertentangan.
Sasaran Kerja:
Membantu kelompok-2 yg bertentangan utk memisahkan pribadi dari masalah dan persoalan, dan utk mampu melakukan negosiasi atas dasar kepentingan mereka dan bukan atas dasar posisi mereka
Memfasilitasi kesepakatan yg menawarkan keuntungan bersama bagi kedua atau semua kelompok


3.Teori Kebutuhan Manusia ( Human Need Theory)
Asumsinya:
Bahwa konflik yg berakar dalam, disebabkan oleh kebutuhan dasar manusia--- fisik, psikologis, dan sosial--- yg tdk terpenuhi atau dikecewakan. Keamanan identitas, pengakuan, partisipasi dn otonomi seringkali disebut pula sbg kebutuhan manusia
Sasaran kerjanya:
Membantu pihak-2 yg berkonflik utk mengindentifikasi dan menyampaikan kebutuhan yg tdk terpenuhi, dan memunculkan berbagi pilihan utk memenuhi kebutuhan tersebut.
Bagi pihak-2 tersebut agar mencapai kesepakatan ttg kebutuhan identitas penting dari semua pihak

4.Teori Identitas (Indentity Theory)

Asumsinya:
Bahwa konflik disebabkan oleh perasaan akan adanya identitas yg terancam. Perasaan semacam ini muncul karena perasaan kehilangan dan penderitaan masa lalu yg tdk terselesaikan.
Sasaran kerjanya:
Workhsop dan dialog yg difasilitasi bagi pihak-2 yg berkonflik utk tujuan mengidentifikasi ancaman dan ketakutan yg mereka rasakan serta utk membangun empati dan rekonsiliasi di antara mereka
Bersama-sama mencapai kesepakatan utk mengenai kebutuhan-2 identitas semua pihak.

5. Teori Miskomunikasi Antar Budaya (Intercultural Miscommunication Theory)

Asumsinya:
Bahwa konflik disebabkan oleh pertentangan antar gaya komunikasi antar budaya yg berbeda.
Sasaran kerjanya:
Meningkatkan pengetahuan masing-2 pihak yg terlibat konflik mengenai budaya masing-2
Memperlemah streotype negatif dimasing-2 pihak
Meningkatkan komunikasi antar budaya yg efektif

Asumsinya:
Bahwa konflik disebabkan oleh pertentangan antar gaya komunikasi antar budaya yg berbeda.
Sasaran kerjanya:
Meningkatkan pengetahuan masing-2 pihak yg terlibat konflik mengenai budaya masing-2
Memperlemah streotype negatif dimasing-2 pihak
Meningkatkan komunikasi antar budaya yg efektif

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar