PSKPM: “Your Common House for Capacity Building”
PILKADA YOGYAKARTA
"HATI" Sementara Unggul
dengan Hitungan KPU
(KLIPING/Senin, 26 September 2011)
YOGYAKARTA (Suara Karya): Pasangan nomor urut tiga Haryadi Suyuti-Imam
Priyono atau Hati untuk sementara unggul dalam Pemilihan Kepala Daerah
Kota Yogyakarta 2011 berdasarkan "real count" dari Komisi Pemilihan Umum
Kota Yogyakarta.
Berdasarkan penghitungan Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Yogyakarta,
Minggu (25/9), diketahui pasangan nomor satu Zuhrif Hudaya-Aulia Reza
memperoleh 12.282 suara atau 9,44 persen, pasangan nomor dua Hanafi
Rais-Tri Harjun Ismaji memperoleh 52.724 suara atau 40,54 persen, dan
pasangan nomor tiga Haryadi Suyuti-Imam Priyono memperoleh 65.054 suara
atau 50,02 persen.Penghitungan suara oleh KPU Kota Yogyakarta tersebut didasarkan pada
data yang masuk sebesar 66 persen. Dari data tersebut, pasangan nomor
tiga unggul di 12 kecamatan, sedang pasangan nomor dua unggul di dua
kecamatan, dan pasangan nomor satu tidak memiliki keunggulan di satu
kecamatan pun.Sebanyak 12 kecamatan tersebut adalah Mantrijeron, Kraton, Mergangsan,
Pakualaman, Gondomanan, Ngampilan, Wirobrajan, Gedongtengen, Jetis,
Tegalrejo, Gondokusuman, dan Danurejan, sedang pasangan nomor dua unggul
di Kecamatan Umbulharjo dan Kotagede.Hasil penghitungan suara dari KPU Kota Yogyakarta tersebut tidak jauh
berbeda dengan hasil hitung cepat yang dilakukan oleh salah satu lembaga
survei yaitu Jaringan Suara Indonesia (JSI).Berdasarkan hasil hitung cepat JSI, pasangan nomor satu memperoleh 9,65
persen suara, pasangan nomor dua memperoleh 41,97 persen suara dan
pasangan nomor tiga memperoleh 48,38 persen suara dengan simpangan
kesalahan sekitar satu persen.Sementara itu, Istri dari Sultan HB X yang juga anggota DPD GKR Hemas
saat berkunjung ke Posko Hati mengatakan, masyarakat Yogyakarta tetap
melihat kekuatan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat dan Puro Pakualaman."Sebelumnya, saya juga sudah mengira pasangan ini akan menang. Kekuatan
rakyat Yogyakarta tidak akan bisa berubah karena ada keyakinan terhadap
Keraton dan Pakualaman," katanya.GBPH Prabukusumo yang juga hadir di Posko Hati mengatakan, pelaksanaan
Pemilihan Kepala Daerah Kota Yogyakarta 25 September 2011 berbeda dengan
pilkada sebelumnya karena bertepatan dengan molornya pembahasan
Rancangan Undang-Undang Keistimewaan DIY. "Keunggulan pasangan ini
merupakan bentuk kemenangan rakyat Yogyakarta. Ini merupakan wujud bahwa
Yogyakarta memiliki nurani," katanya.Sementara itu, meskipun KPU Kota Yogyakarta belum mengeluarkan
keputusan resmi terkait penghitungan suara, namun tim dari pasangan
Zuhrif-Reza juga memperkirakan Hati akan memperoleh suara terbanyak.
"Berdasar penghitungan yang kami lakukan, pasangan nomor tiga unggul,"
kata Ketua Tim Sukses Zuhrif-Reza Ardianto.Oleh karenanya, Ardianto mengucapkan selamat kepada pemenang dan
berharap pemerintahan periode mendatang dapat mewujudkan kesejahteraan
warga Yogyakarta.Zuhrif Hudaya-Aulia Reza tetap merasa ikhlas dengan kemenangan pasangan
nomor tiga. "Selamat kepada Mas Haryadi, semoga amanah dalam memimpin
kota Yogya," kata Zuhrif.
Meskipun tidak memenangi pemilihan kepala daerah, Zuhrif mengatakan,
akan tetap melanjutkan program "Mbangun Kampung" yang digagasnya.
Sementara itu, Wali Kota Yogyakarta Herry Zudianto mengatakan,
masyarakat telah menentukan pilihannya untuk kepala pelayan masyarakat
yang baru. (Ant)
YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Mulai pukul 17.00 nanti
calon terkuat pemenang pemilihan pemilihan kepala daerah Kota
Yogyakarta, bisa dilihat dari hasil rekapitulasi sementara di Kantor
Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Kota Yogyakarta, Jalan Magelang,
Yogyakarta.
Sementara itu, hasil perhitungan suara manual di
tingkat kecamatan baru akan dimulai Senin (26/9/2011) dan Selasa
(27/9/2011) besok, sebelum akhirnya dihitung final di KPUD Kota
Yogyakarta, Kamis (29/9/2011) mendatang.
"Pukul 17.00 nanti hasil
penghitungan suara sementara bisa dilihat. Sekarang proses penghitungan
di 838 tempat pemungutan suara masih berlangsung," kata Ketua KPUD Kota
Yogyakarta Nasrullah, Minggu (25/9/2011) di Yogyakarta.
Dalam
Pilkada Kota Yogyakarta kali ini, tiga pasang calon wali kota dan wakil
wali kota bertarung. Ketiga pasangan ini memperebutkan sebanyak 322.840
suara.
Pasangan nomor urut 1 adalah kader Partai Keadilan
Sejahtera (PKS), Zuhrif Hudaya bersama wakilnya, Aulia Reza Bastian.
Bakal calon wali kota yang telah ditinggal Gerindra ini diusung PKS,
Partai Hati Nurani Rakyat, Partai Kasih Demokrasi Indonesia, Partai
Karya Peduli Bangsa, dan Partai Republikan Nusantara.
Pasangan
nomor urut 2 adalah putra mantan Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat
Amien Rais, Hanafi Rais dan Tri Harjun Ismaji,mantan Sekretaris Daerah
Provinsi DIY. Hanafi dan Tri Harjun diusung empat partai besar dan
sembilan partai yang tergabung dalam Koalisi Mataram.
Keempat
partai pengusung Hanafi-Tri Harjun adalah Partai Demokrat, Partai
Persatuan Pembangunan, Partai Amanat Nasional, dan Partai Gerakan
Indonesia Raya.
Adapun sembilan partai yang tergabung dalam
Koalisi Mataram adalah Partai Bulan Bintang, Partai Kebangkitan Bangsa,
Partai Damai Sejahtera, Partai Demokrasi Kebangsaan, Partai Pekerja dan
Pengusaha Indonesia, Partai Peduli Rakyat Nasional, Partai Keadilan dan
Persatuan Indonesia, Partai Demokrasi Pembaruan, dan Partai Kebangkitan
Nasional Ulama.
Pasangan nomor urut 3 adalah, Wakil Wali Kota
Yogyakarta, Haryadi Suyuti, yang berpasangan dengan Imam Priyono.
Pasangan ini didukung Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan dan Partai
Golkar.
Yogyakarta, CyberNews. Pasangan nomor urut 3,
Haryadi Suyuti-Imam Priyono (Hati) tetap memimpin perolehan suara
Pilkada Kota Yogyakarta 2011 dalam penghitungan yang dilakukan KPU Kota
Yogyakarta.
Dalam penghitungan yang diselesaikan Minggu (25/9) pukul 21.00 tersebut Hati memperoleh 67.793 suara atau 49,94 %.
Sementara pasangan nomor urut 2, Ahmad Hanafi Rais-Tri Harjun (Fitri)
memperoleh 56.937 suara atau 41,18%, dan pasangan nomor urut 2 Zuhrif
Hudaya-Aulia Reza (Zulia) memperoleh 13.518 atau 9,78%.
“Kami tidak tahu apakah ini disebut quick count atau real count. Yang
jelas kami memasukkan data-data yang dikirimkan dari KPPS. Sampling
diambil 70% dari keseluruhan TPS yang ada. Jadi ini adalah data dari
588 TPS dari jumlah keseluruhan 838 TPS,” ujar Divisi Sosialisasi dan
Humas KPU Kota Yogyakarta, Titok Hariyanto.
Titok menambahkan penghitungan ini bertujuan untuk menjawab rasa
ingin tahu masyarakat terkait perolehan suara. Meski begitu melalui
hasil ini, sudah bisa memberikan gambaran pada masyarakat Yogyakarta
terkait kandidat kuat calon terpilih.
“Hasil ini cukup bisa memberikan gambaran pada masyarakat calon kuat
yang akan terpilih, karena umumnya hasil rekapitulasi manual nanti tidak
akan berubah banyak,” ujarnya.
Hasil penghitungan suara dari KPU Kota Yogyakarta tersebut berbeda
tipis dengan hasil hitung cepat yang dilakukan oleh salah satu lembaga
survei yaitu Jaringan Suara Indonesia (JSI).
Berdasarkan JSI pasangan Zulia memperoleh 9,65 persen suara, pasangan
nomor Fitri memperoleh 41,97 persen suara dan pasangan Hati memperoleh
48,38 persen. Setelah ini KPU akan melakukan tahap rekapitulasi manual
dari tingkat PPK dari tanggal 26-28 Oktober.
“Setelah itu tanggal 29 September-1 Oktober baru KPU akan
merekapitulasi juga. Hasil inilah yang nanti akan dibawa ke pleno untuk
menetapkan calon terpilih,” terang Titok.
| PDIP Kian Mantap Dukung Penetapan |
 |
| 27/09/2011 08:43:24 YOGYA
(KR) - Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PDI Perjuangan Kota Yogyakarta
merasa lega setelah dipastikan pasangan Haryadi Suyuti-Imam Priyono
(Hati) memenangi Pemilukada Kota Yogyakarta 2011. Kemenangan tersebut
menjadi penebus dari kemenangan yang tertunda dari dua pemilukada
sebelumnya yaitu 2001 dan 2006 dimana paslon yang dipasang DPC PDI
Perjuangan Kota Yogya selalu kalah. Hal tersebut dikemukakan Ketua DPC
PDI Perjuangan Kota Yogyakarta Sudjanarko kepada wartawan di Kantor DPC
PDIP Kota Yogya, Senin (26/9). Sudjanarko didampingi Ketua Desk Pilkada
DPD PDI Perjuangan DIY Eko Suwanto, Ketua dan Sekretaris Desk Pilkada
DPC PDIP Kota Yogya Sutaryo dan Danang Rudiyatmoko. Hasil rekapitulasi
akhir yang dilakukan DPC PDI Perjuangan di seluruh TPS menunjukkan hasil
akhir 96.595 suara atau 48,59 persen, pasangan nomor urut 2 mendapatkan
41,68 persen atau sejumlah 82.852 suara dan pasangan nomor 1
mendapatkan 9,74 persen suara atau 19.358. “Jadi kalau dari hasil
sementara quick count kami kalah di dua kecamatan, hasil real count yang
kami lakukan kalah di tiga kecamatan yaitu Kotagede, Umbulharjo dan
Ngampilan,” kata Sutaryo. Eko Suwanto mengungkapkan ucapan terimakasih
secara spesial juga diberikan kepada keluarga besar Kraton Yogyakarta
dan Pura Pakualaman. Kemenangan Hati semakin meneguhkan perjuangan untuk
penetapan. PDIP juga berkomitmen untuk mengawal pengelolaan kekuasaan
pasca terpilihnya Hati. (Apw)-a |
Hindari kecurangan tim paslon kawal rekapitulasi suara
Tribun Jateng - Senin, 26 September 2011 13:14 WIB
Laporan Wartawan Tribun Jogya/ Rina Eviana
TRIBUNJATENG.COM
YOGYA,– Proses rekapitulasi hasil pemungutan suara Pemilihan Kepala
Daerah (Pilkada) Yogyakarta masih akan dilakukan secara berjenang dari
Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) hingga Komisi Pemilihan Umum (KPU).
Menghindari peluang kecurangan rekap suara tim ketiga pasangan calon
melakukan pengawalan selama proses rekap hasil perhitungan suara
selesai.
Ardianto, selaku Ketua Tim Sukses pasangan nomor urut 1,
Zuhrif Hudaya-Aulia Reza Bastian mengatakan, meskipun perolehan
pasangan 1 cukup jauh dibawah perolehan pasangan lain, namun akan tetap
melakukan pengawalan hingga proses akhir rekap suara. Tim pasangan
Zuhrif-Reza menerjunkan saksi-saksi di tempat pemungutan suara (TPS), di
tingkat PPK hingga kota. “Sekalipun jumlah perolehan suara pasangan
calon kami cukup jauh tapi komitmen kami akan mengawal proses
perhitungan suara sampai selesai sehingga rekapitulasi suara berjalan
bersih hingga akhir,” jelas Ardianto, Senin (26/8/2011).
Ketua
Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini
menuturkan belum menemukan adanya kecurangan maupun hal-hal yang
berpotensi menimbulkan kecurangan selama proses perhitungan suara
berjalan. “Secara detail kami belum mendapatkan hasil dari saksi. Nanti
menunggu rekap berita acara di tiap PPK,” ujarnya.
Ardianto
mengutarakan jika nantinya dari seluruh berita acara ditemukan problem
yang sama akan menjadi pencermatan dan pendalaaman. “Kalau hanya
ditemukan kejadian sedikit itu kan tidak bisa jadi generalisasi
kecurangan sistemik. Kalau ada kejadian serupa dan banyak itu akan jadi
pencermatan,” tegasnya.
Tim pasangan nomor urut 2, Ahmad
Hanafi Rais-Tri Harjun Ismaji (FITRI) juga melakukan pengawalan selama
proses rekapitulasi suara. Heroe Purwadi, Ketua Tim Sukses FITRI
mengatakan, kemarin malam usai penghitungan suara, timnya melakukan
briefing untuk saksi-saksi di PPK. “Saksi ini yang akan mengawal proses
rekapitulasi suara,” kata Heroe.
Terlebih, katanya,
perolehan suara antara pasangan calon nomor 2 dan 3 tidak terlampau
jauh. “Kemarin baru kite cermati secara kualitatif. Tapi secara
kuantitatif belum detail,” ujarnya.
Heroe juga
mengatakan timnya masih melakukan pencermatan terhadap suara syah yang
ada. Sebab dari hasil evaluasi yang dilakukan timnya, hasil survey real
count dari berbagai sumber terdapat suara syah yang berbeda. “Kita
terjunkan saksi karena kami cermati ada jumlah suara syah yang beda
antara 9000 hingga 10.000 suara,” katanya.
Sujanarko,
Tim Sukses pasangan nomor 3 Haryadi Suyuti-Imam Priyono mengatakan
pengurus structural partai mendampingi masing-masing saksi di PPK selama
proses rekap dilakukan. Selain itu satgas-satgas juga turut membantu
mengawal rekap suara hingga selesai. “Ini supaya tidak ada celah
potensi-potensi kecurangan saat proses rekapitulasi suara dilakukan,”
jelas Koko.
Proses pemungutan suara di Pilkada
Yogyakarta Minggu (25/9) kemarin telah dilaksanakan. Hasil rekapitulasi
sementara di Komisi pemilihan Umum (KPU) Yogyakarta Minggu (25/9) malam
pasangan calon wali kota dan wakil wali kota nomor urut 3, Haryadi
Suyuti-Imam Priyono (HATI) sementara masih mengungguli dua rival
lainnya. Keduanya mendapat perolehan suara sebanyak 67.793 suara atau
49,04 persen dari 70 persen tempat pemungutan suara (TPS) di 14
kecamatan.
Diurutan nomor dua diduduki pasangan nomor
urut 2, Ahmad Hanafi Rais-Tri Harjun Ismaji (FITRI) mendapat perolehan
suara sebanyak 56.937 suara atau 41,18 persen. Sedang Zuhrif
Hudaya-Aulia Reza Bastian pemilik nomor urut 1 berada diurutan ketiga
dengan perolehan suara sementara 13.518 suara atau 9,87 persen. Pasangan
HATI rata-rata unggul di 12 kecamatan. Sementara FITRI mengungguli HATI
di Kecamatan Umbulharjo dan Kecamatan Kotagede.
Editor : budi_pras
| Analisis==> Memenangkan Pemilukada Oleh : Drs Suranto |
 |
| 26/09/2011 11:11:29 Pesta
demokrasi lokal dalam bentuk Pemilu Kepala Daerah di Kota Yogyakarta
bakal digelar Minggu 25 September 2011 ini. Tiga pasangan calon kepala
daerah dan wakil kepala daerah pun, telah ditetapkan sebagai peserta
yang diusung oleh koalisi partai-partai baik yang memiliki kursi di DPRD
maupun yang tidak. Maka suasana kompetisi pun memasuki fase yang
semakin menghangat, mengingat semua pasangan calon telah mempersiapkan
diri untuk menggapai kemenangan. Fenomena in logis mengingat pemilukada
merupakan salah satu bagian dari aktivitas politik praktis, yang dalam
terminologi akademik, politik diartikan secara sederhana sebagai seni
untuk mendapatkan kekuasaan serta mempertahankannya. * Bersambung hal 10
kol 5 Dengan demikian ajang pertarunganpun tidak hanya melibatkan calon
pasangan baru yang akan ikut memperebutkan kekuasaan, namun juga
pasangan calon incumbent yang ingin mempertahankannya. Tulisan ini
mencoba mengidentifikasi faktor-faktor determinan yang bisa menentukan
kemenangan dalam Pemilukada dengan berdasarkan pada fakta empirik yang
pernah terjadi baik dalam skop nasional maupun lokal. Banyak kalangan
memandang bahwa persoalan memenangkan Pilkada hanya terletak pada sisi
finansial belaka. Pendapat itu tidak sepenuhnya benar, karena memang
faktor finansial itu penting, namun tidak yang paling menentukan.
Berdasarkan pengalaman empirik pelaksanaan Pemilukada dan Pemilu di
Indonesia, dapat disarikan adanya Faktor 4-M yang menentukan kemenangan
pasangan calon dalam pertarungan di Pilkada, yaitu sebagai berikut:
Faktor 4-M yang pertama adalah Mesin Politik. Yang dimaksud dengan mesin
politik adalah sarana atau perangkat sistemik struktural yang sangat
efektif untuk melakukan fungsi komunikasi politik, sosialisasi politik,
rekrutmen sampai penggalangan partisipasi konstituen untuk menggolkan
pasangan yang diusungnya. Kendaraan politik mapan ditandai dengan
kuatnya dukungan basis massa, sistem yang sudah solid, serta pengalaman
yang cukup. Semakin kuat mesin sebuah politik, maka semakin mudah dalam
mempermulus jalan calon memenangkan pilkada, karena mesin politik akan
mudah menggarap, membentuk opini massa dengan jaringan yang telah ada.
Tak ayal fenomena koalisi antar beberapa parpol mapan akan sangat
memperkuat mesin politik yang ada. Namun, keberadaan mesin politik
biasanya hanya menguntungkan bagi calon yang menggunakan pencalonan
melalui jalur partai, dan tidak berlaku bagi calon jalur independen.
Bagi calon yang diusung partai, maka mesin politik sudah terbangun dan
tinggal menggerakannya. Sementara bagi calon independen yang biasanya
hanya mengandalkan aspek popularitas sulit untuk memanfaatkan mesin
politik mapan yang ada. Akibatnya dari beberapa pengalaman praktik
Pilkada di Indonesa, hanya ada sedikit pemenang Pilkada yang terpilih
melalui jalur independen, yaitu aktor Dicky Chandra yang terpilih
sebagai Wakil Bupati Garut, yang saat ini telah mengundurkan diri.
Selanjutnya faktor M yang kedua adalah Mass communication (komunikasi
massa). Tak diragukan lagi bahwa komunikasi massa sangat efektif
menentukan kemenangan calon, mengingat kemampuannya untuk membentuk
opini dan pencitraan kepada publik. Gaya komunikasi Presiden SBY
barangkali bisa dijadikan contoh. Politik pencitraan yang dikemasnya
telah menarik para pemilih untuk menjatuhkan pilihan kepadanya, karena
kesuksesan komunikasi massa yang digalang tim suksesnya. Citra SBY yang
kalem, gagah, berbicara teratur dan seolah tidak ada cacat telah
berhasil membius sebagian besar warga untuk mendaulatnya sebagai
presiden RI. Faktor M yang ketiga adalah Momentum. Pengertian momentum
secara sederhana adalah peristiwa sesaat yang sangat strategis bagi
calon untuk menarik keuntungan waktu. Momentum bisa terjadi secara
alami, namun bisa juga direkayasa atau diciptakan. Kemunculan Megawati
sebagai presiden RI tentunya tak lepas dari momentum dikuyo-kuyo dirinya
oleh Pemerintah Orde Baru yang terkenal dengan peristiwa Kerusuhan 27
Juli. Peristiwa pengrusakan Kantor DPP PDI oleh sekelompok oknum saat
itu telah mengangkat pamor Megawati menjadi calon yang dinistakan.
Contoh lain adalah munculnya SBY sebagai presiden pada periode pertama
juga tak lepas dari momentum dikuyo-kuyonya SBY oleh Taufik Kiemas yang
menyatakan SBY sebagai kekanak-kanakan saat mundur dari kabinet Mega
untuk berlaga melawan Mega. Kasus melodrama yang dilakukan kedua tokoh
tersebut tampak memunculkamn simpati pada para pemilih yang merasa iba
dengan tokoh yang dinistakan. Barangkali momentum ini juga bisa
dilakukan di skop yang lebih kecil di daerah. Faktor M terakhir adalah
Materi. Tak disangkal bahwa berlaga di ajang pilkada yang membutuhkan
mesin politik dan komunikasi massa memerlukan adanya dukungan materi
yang kuat. Bahkan untuk calon independen malah akan lebih berat
mengingat harus mengumpulkan dukungan 4% dari total penduduk. Apabila
setiap KTP dukungan harus dialokasikan sejumlah materi, maka betapa
besar materi yang harus dialokasikan. Apalagi pada saat kampanye,
kebutuhan akan lebih besar lagi mengingat konstituen dan tim sukses
membutuhkan dukungan logistik yang cukup. Di samping Faktor 4 M
tersebut, sebenarnya masih ada faktor yang lebih menentukan yaitu faktor
tangan Tuhan, karena kendati telah didukung semua faktor 4 M di atas,
namun apabila Tuhan berkehendak lain maka semuanya akan berantakan. Oleh
sebab itu, hendaknya semua calon bersikap sabar dan menerima hasil
apapun setelah semua upaya dilakukan, karena hasil akhir adalah berada
di tangan Nya. Dengan demikian jika semua pihak bisa melakukannya, maka
Pemilukada akan kondusif, aman dan damai. Selamat menggunakan hak pilih
warga kota Yogyakarta ! Identitas Penulis: (Penulis adalah Ketua Jurusan
Ilmu Pemerintahan UMY)-f |